Thursday, January 18, 2007

E-Gvernment

Peningkatan Layanan Publik Melalui E-Government
Oleh:
Wawan Indra Kusuma
(F1Boo4o3o)


Kemajuan teknologi informasi sekarang ini telah melahirkan adanya electronical government (e-government). Pengertian E-Government sendiri adalah penggunaan teknologi informasi untuk membuka pemerintah dan informasi pemerintah untuk memungkinkan dinas-dinas pemerintah untuk berbagi informasi demi kemanfaatan publik, untuk memungkinkan terjadinya transaksi secara online dan untuk meningkatkan demokrasi. E-Government memberikan manfaat yang sangat besar karena mempersempit jarak, ruang, dan waktu dalam pelayanan publik. Semakin besarnya tuntutan masyarakat akan pemerintahan yang baik sudah sangat mendesak untuk dilaksanakan oleh aparatur pemerintah. Salah satu solusi yang diperlukan adalah keterpaduan sistem penyelenggaraan pemerintah melalui jaringan sistem informasi on- line antar instansi pemerintah baik pusat dan daerah untuk mengakses seluruh data dan informasi terutama yang berhubungan dengan pelayanan publik. Dalam sektor pemerintah, perubahan lingkungan strategis dan kemajuan teknologi mendorong aparatur pemerintah untuk mengantisipasi paradigma baru dengan upaya peningkatan kinerja birokrasi serta perbaikan pelayanan menuju terwujudnya pemerintah yang baik (good governance). Hal terpenting yang harus dicermati adalah sektor pemerintah merupakan pendorong serta fasilitator dalam keberhasilan berbagai kegiatan pembangunan, oleh karena itu keberhasilan pembangunan harus didukung oleh kecepatan arus data dan informasi antar instansi agar terjadi keterpaduan sistem antara pemerintah dengan pihak penggunan lainnya. Upaya penerapan e- Government di negara kita, masih menemui kendala karena saat ini belum semua daerah menyelenggarakannya. Apalagi masih ada anggapan e-Government hanya membuat web site saja sosialisasinya tidak terlaksana dengan optimal. Kendati demikian yang terpenting adalah menghapus opini salah yang menganggap penerapan e-Government ini sebagai sebuah proyek, padahal merupakan sebuah sistem yang akan memadukan subsistem yang tersebar di seluruh daerah dan departemen. Di samping itu beberapa anggapan yang berkembang dalam masyarakat akan E-Gov juga ikut memperlambat uaya penerapan E-Gov di Indonesia. Anggapan-anggapan tersebut antara lain:
  • E-Government = Anggaran Besar
  • E-Government = Membangun Website. banyak yang beranggapan bahwa hanya dengan membuat web-site, maka implementasi E-Gov sudah cukup. Sesungguhnya masih nanyak pekerjaan lain untuk implementasi E-Gov itu sendiri.
  • E-Government = ICT. Tak jarang, keberhasilan penerapan e-government di lembaga-lembaga pemerintah diukur dari kecanggihan infrastruktur ICT-nya. Makin canggih dan beragam sistem yang dijalankan, makin baik penerapan e-government di lembaga tersebut. Anggapan tersebut tidaklah benar atau tidak tepat. Pasalnya, keberhasilan implementasi e-government mesti dinilai pula dari tingkat efektivitas penggunaan sistem yang dibangun. Apalagi esensi dari penerapan e-government adalah pemberian layanan kepada masyarakat. Banyak lembaga pemerintah yang terjebak bahwa e-government hanyalah penggunaan TI atau komputerisasi, tetapi belum menyentuh kepentingan publik.

Maka dari itu, di zaman serba teknologi ini, mestinya penerapan e-government di lembaga-lembaga pemerintah sudah bukan barang baru lagi. Bahkan, idealnya, sudah menjadi kebutuhan dan bagian dari strategi penyelenggaraan pemerintah..."Let's go to E-Gov"

Reference:

  1. http://www.wartaekonomi.com Diakses tanggal 19 Jan 2oo7
  2. http://www.depdagri.go.id Diakses tanggal 19 Jan 2oo7

TEKNOLOGI

Kehidupan Era Baru Bersama 3G
Oleh :
Indra KH



Kehadiran teknologi telepon selular generasi ketiga (3G) memberi peluang untuk mewujudkan impian-impian masa lalu terkait cara berkomunikasi. Kita sebelumnya mungkin belum pernah membayangkan dapat berkomunikasi dengan seseorang yang terpisah jarak namun bisa merasakan seakan-akan dia hadir dekat dengan kita. Hal itu bisa terasa karena selain bisa mendengar suaranya juga bisa melihat wajah lawan bicara di layar ponsel.
Penulis menjadi ingat kepada pelawak legendaris Srimulat di era 80-an Alm. Gepeng. Saat itu, bila dia memerankan adegan menelpon seseorang, Gepeng kerap beraksi dengan memperlihatkan gagang pesawat teleponnya itu ke sekelilingnya, seolah-olah lawan bicaranya bisa melihat aktivitas yang Gepeng lakukan dan situasi di sekelingnya.
Mungkin pada waktu itu para penonton pun berpikir adegan Gepeng tersebut hanyalah guyonan dan dagelan belaka yang sulit untuk diwujudkan. Namun kini perkembangan teknologi telekomunikasi berkembang kian pesat dan memungkinkan untuk mewujudkan hal itu.
Di era 1978 generasi pertama telepon bergerak yang menggunakan teknologi analog seperti AMPS (Advance Mobile Phone Service), Total Access Communications System (TACS) dan Nordic Mobile Telephone (NMT) mulai diperkenalkan.
Teknologi mobile kemudian terus berkembang dengan hadirnya teknologi telepon selular generasi kedua (2G) lewat GSM (Global System for Mobile Communications) dan CDMA (Code Division Multiple Access). Keduanya memberikan layanan selangkah lebih maju dengan teknologi digital yang dimiliki dan kemampuannya mentransfer data.
Kehadiran 2G kemudian diikuti oleh teknologi GPRS (General Packet Radio Service) dan EDGE (Enhance Data rates for GSM Evolution) yang memiliki kecepatan pengiriman data lebih baik.
Belakangan muncul teknologi telepon selular generasi ketiga (3G) yang mampu mentransfer suara, data dan gambar dalam kecepatan tinggi, hingga 2 Mbps (megabyte per second).
Terlepas dari sisi biaya yang belum diketahui besarnya dan berbagai aspek kesiapan masyarakat dalam implementasi layanan 3G, kemampuan yang dimiliki teknologi ini tentunya diharapkan mampu memberikan lebih banyak kemudahan dan efektivitas untuk berbagai sisi kehidupan masyarakat Indonesia.
Namun demikian seperti kita pahami, setiap hal baru yang masuk ke masyarakat pasti membawa dampak atau perubahan sosial. Tak terkecuali dengan 3G. Keberadaannya di tanah air sudah barang tentu akan memberikan banyak implikasi di berbagai sektor kehidupan.

Bidang Pendidikan
Seperti kita ketahui, kondisi pendidikan kita hingga kini masih belum menggembirakan, kalau tidak mau disebut terpuruk. Berdasarkan catatan UNDP misalnya, pendidikan Indonesia ternyata berada pada peringkat 117 dari 175 negara di dunia. Padahal negeri Jiran Malaysia, jauh melesat di urutan 58.
Bila kita cermati salah satu masalah pendidikan kita adalah kendala akses ke sumber informasi. Masih mahalnya harga buku-buku, ditambah keenganan sebagian besar masyarakat kita melangkah ke toko-toko buku dan perpustakaan diiringi masih ribetnya mencari informasi di perpustakaan konvensional ditenggarai menjadi penyebab hal tersebut.
Selain internet, kehadiran 3G tentunya diharapkan dapat memberi alternatif solusi permasalahan akses ke sumber informasi ini. Contohnya, para pengguna ataupun pelanggan layanan ini ke depan akan memungkinkan untuk memilih berbagai e-book yang ditawarkan oleh berbagai content provider di manapun ia berada, selama lokasinya dalam jangkauan jaringan operator.
Bagi para penerbit pun, teknologi ini akan mengurangi cost, karena mereka tidak usah mengeluarkan ongkos cetak dan biaya distribusi, karena buku mereka dikemas secara digital dan didistribusikan lewat content provider.
Tak hanya e-book, kanal 3G ini pun bisa dimanfaatkan untuk pendistribusian file audio maupun video bermuatan edukasi. Ke depan bukan tidak mungkin para pemain content membidik para ilmuwan maupun pakar nasional atau internasional untuk menjadi nara sumber layanan mereka, sehingga masyarakat bebas memilih jenis informasi dari nara sumber yang mereka inginkan.
Para pengelola konten pun bisa memanfaatkan teknologi ini untuk program-program kursus singkat. Adapun untuk kepentingan konsultasi ataupun media interaktif bersama nara sumber, mereka bisa memanfatkan fasilitas video call maupun video conference.
Kendati begitu, bagi dunia akademisi maupun sekolah, kehadiran teknologi 3G ini berpotensi juga menimbulkan dampak negatif. Bila tidak diantisipasi, para siswa yang selama ini gemar menyontek dengan memanfaatkan fasilitas sms, boleh jadi di masa depan cukup memperlihatkan lembar jawaban kepada temannya via kamera handset 3G. Bahkan para joki ujian masuk perguruan tinggi bersama timnya pun berpotensi memanfaatkan teknologi ini untuk memuluskan langkah mereka.

Media dan Hiburan
Salah satu aspek yang akan berubah dengan kehadiran 3G adalah media dan hiburan. Sebagaimana kita tahu, sebagian besar masyarakat kita adalah tipikal watching society. Hal ini terlihat dari kurangnya minat baca di negeri ini. Mereka cenderung lebih menyukai tontonan bukan bacaan. Kenyataan ini tentu akan dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis media maupun hiburan dalam memaksimalkan potensi yang dimiliki 3G.
Jaringan 3G yang memiliki bandwidth besar untuk lalu lintas data akan sangat memungkinkan bagi operator untuk menyediakan konten-konten berkapasitas besar, seperti konten-konten media dan hiburan sebagai salah satu layanan. Berbagai klip musik maupun MP3 diyakini akan membanjiri layanan 3G. Hal ini bahkan sudah dimulai dengan kehadiran fasilitas Ring Back Tone maupun Video Ring Tone saat ini.
Selain memungkinkan untuk melakukan download file-file audio/video on demand, kehadiran 3G juga akan memungkinkan para penggunanya untuk menikmati radio streaming maupun mobile TV, termasuk sinetron, seperti yang sudah diaplikasikan di negara tetangga Singapura lewat operator MobileOne Ltd.
Bagi para jurnalis televisi, kehadiran 3G diharapkan akan membantu peliputan mereka. Karena lewat video call mereka bisa secepatnya melaporkan sebuah peristiwa ke kantor redaksi untuk ditayangkan segera.
Tak hanya TV dan Radio, media cetak pun bisa saja akan semakin banyak yang beralih ke media online, untuk membidik pasar ini. Para pelaku bisnis koran/ majalah tentunya harus berkompetisi dalam menyuguhkan berita maupun informasi yang aktual jika ingin konten mereka dipilih pelanggan.

Bisnis dan Usaha
Bagi para pebisnis dari kalangan sosial ekonomi status tinggi (A, B), kehadiran 3G tentu akan semakin memudahkan mereka dalam mengambil keputusan. Pergerakan indeks saham maupun kurs dan didukung informasi dari pers yang bisa dipantau oleh mereka dari manapun akan membuat simpel pekerjaan mereka.
Pun begitu dalam membaca peluang bisnis atau memutuskan sebuah penawaran kerjasama. Para pengusaha tak perlu beranjak dari kursi mereka untuk melihat sebuah penawaran barang/ jasa dari sebuah perusahaan. Mereka cukup melihat barang yang ditawarkan lewat video call, atau minta dikirim detail via email.
Untuk kepentingan koordinasi pimpinan antar cabang, kalangan eksekutif perusahaan juga dapat memanfaatkan video conference, sehingga masing-masing individu dapat lebih mengefisiensikan waktunya. Mereka tak perlu berduyun-duyun pergi ke kantor pusat untuk sekedar koordinasi yang tidak mendesak.

Gaya Hidup
Teknologi telepon selular generasi ke-tiga ini juga akan banyak memberi implikasi bagi gaya hidup masyarakat Indonesia. Ada kecenderungan di awal-awal kehadirannya 3G akan menjadi indikator pendongkrak status sosial bagi penggunanya.
Bagi masyarakat kota metropolitan yang sudah akrab dengan kemacetan, kehadiran jaringan 3G akan membantu mereka untuk memilih jalan-jalan alternatif yang sedikit bebas macet. Hal itu terjadi karena operator lewat content provider bisa memberikan layanan video real time yang menayangkan situasi di jalan-jalan protokol.
Bagi sebagian orang, layanan seperti itu mungkin tidak terlalu aneh, karena sudah diberikan oleh salah satu operator di tanah air. Namun operator telekomunikasi dapat memberinya nilai tambah dengan menempatkan semacam line call center yang bisa membantu masyarakat mendapatkan saran jalan yang bebas macet. Yang menarik, bila selama ini kita hanya bisa mendengar suara saja di layanan call center seperti itu, ke depan tentunya kita pun bisa melihat wajah petugas layanan tersebut di layar ponsel .
Bagi remaja maupun para games mania, ke depan mereka akan lebih leluasa bermain game online, tak hanya lewat internet namun juga lewat ponsel, karena jaringan 3G memungkinkan untuk itu. Pun begitu bagi para peminat komik, mereka bisa mendapatkan komik dengan gambar berkualitas lewat layanan 3G.
Di bulan Ramadhan seperti sekarang ini, penulis jadi ingat fenomena saling berkirim pesan idul fitri. Bila sebelumnya masyarakat kita terbiasa berkirim kartu lebaran, namun setelah kehadiran ponsel semakin marak kebiasaan tersebut berangsur-angsur berubah menjadi saling mengirim ucapan lewat pesan singkat sms. Ke depan setelah hadirnya jaringan 3G kebiasaan masyarakat bukan tidak mungkin akan kembali berubah. Pesan Lebaran akan dikirimkan lewat format video, sehingga kreatifitasnya semakin beragam, atau mengucapkan secara real time via layanan video call.
Hadirnya 3G juga kemungkinan akan bisa mengubah secara perlahan-lahan kebiasaan cara menggunakan ponsel, yang tadinya menempel di telinga menjadi berbicara dengan menatap layar.
Kendati begitu, kehadiran 3G juga berpotensi memberikan ekses negatif terhadap gaya hidup, terutama bagi masyarakat perkotaan. Lewat layanan chat di jaringan 3G misalnya, para pelaku bisnis esek-esek perorangan ini akan lebih bebas bertransaksi dan berpromosi. Mereka bisa saja rela mempertontonkan tubuhnya lewat video call setelah meminta transfer dana kepada peminatnya terlebih dahulu.

Faktor Penentu Kesuksesan 3G
Kesuksesan 3G di tanah air hingga kini memang masih menjadi tanda tanya, apakah kehadirannya akan menuai sukses seperti yang terjadi di Jepang dan Korea Selatan, atau merugi seperti di kawasan Eropa. Terlebih teknologi High Speed Packet Access (HSPA) dan Evolution Data Optimized (EVDO) kini tengah dikaji sebagai penerus generasi ke tiga.
Berbagai elemen tentunya saling berkaitan untuk menyukseskan 3G, diantaranya komunikasi ke masyarakat, ketersediaan handset, harga koneksi dan konten, dan ketangguhan jaringan dan faktor eksternal lainnya.
Menurut pengamat media Ade Armando, tingkat kesejahteraan, pola aktivitas di luar ruang, penggunaan sarana transportasi, kecenderungan ikatan sosial, pola konsumsi media lain, kebutuhan akan hiburan, serta kepemilikan layanan dan perangkat 3G yang bagi sebagian orang bisa menjadi indikator pendongkrak status sosial juga menjadi faktor penentu.
Lalu mampukah 3G menuai sukses di tanah air ? Mari kita tunggu saja!
Reference:

TEKNOLOGI

Meningkatkan Pangsa Pasar dengan Teknologi 3G
Oleh:
Uyun Achadiat


MASIH teringat di benak kita, ketika Indonesia mulai memasuki dunia pager. Begitu bangganya seseorang menerima nada panggil, sebagai tanda masuknya sebuah pesan. Dengan mengambil pesawat pager yang pada umumnya disimpan menggantung diikat pinggang, lalu membukanya dan membaca pesan yang tertulis di layar. Berbagai reaksi selalu menghiasi wajah pembaca pesan yang dikirim operator, tidak ubahnya membaca sms seperti yang kini sudah memasyarakat. Bedanya, kalau pembaca sms bisa langsung menjawab pesan, namun di era pager si penerima pesan biasanya bereaksi secara fisik. Langsung berangkat atau menelefon, sebab isi pesan satu arah dalam pager biasanya singkat. Misalnya, Di tunggu di kantor sebelum jam 17.00, Harap telefon ke nomor biasa, Barang akan segera dikirim dan berbagai pesan yang benar-benar singkat dengan mencantumkan nama si pengirim yang sebelumnya meminta pesannya itu disampaikan melalui operator.
Puluhan mahasiswa Universitas Indonesia, Universitas Mercu Buana, dan Universitas Trisaksi berdiskusi tentang layanan 3G dari Telkomsel. Kunjungan mahasiswa dalam rangkaian ”Indonesia Cellular Show 2005” tersebut merupakan salah satu upaya sosialisasi menjelang diluncurkannya layanan 3G tahun 2006.
Saat itu, tidak terpikirkan bahwa pengirim pesan dan penerima pesan akan bisa langsung bertatap muka dan berkomunikasi. Namun waktu terus berjalan dan perkembangan teknologi seluler demikian pesat. Teknologi yang menghasilkan pesan singkat short message service pun pada awalnya diragukan bisa diterima, namun dalam kenyataannya sms telah demikian menjadi kebutuhan hidup sehari-hari di hampir semua lapisan masyarakat.
Mungkin banyak kalangan tidak menyadari, termasuk sebagian besar pengguna teknologi seluler saat ini yang menggunakan teknologi 2G dan 2.5 G (generation), bahwa tahun ini operator seluler terbesar di tanah air, Telkomsel dalam usia 10 tahun, sudah menguji coba teknologi 3G (three G) yang memungkinkan orang bertelekomunikasi sambil bertatap muka melalui layar HP. Dulu hanya bisa melihat melalui film-film dan dianggap fiksi, tapi kini sudah hadir di depan mata.
Seperti diungkapkan GM Technology & Strategic Network Telkomsel, Yoseph Garo, pihaknya sudah berhasil menguji coba 3G di Jakarta dan Singapura. Bahkan dalam waktu dekat, uji coba akan dilakukan di Batam dan Surabaya. Usai uji coba di kedua kota tersebut, rencananya tahun 2006 akan langsung di-roll out di 5 kota besar. Mengenai izin sendiri, Yoseph menyakini akan dikeluarkan pemerintah mengingat berbagai sarana pendukung sudah benar-benar dipersiapkan. "Bayangkan, izin uji coba dikeluarkan, tiga minggu kemudian kami langsung uji coba dan berhasil. Tidak mungkin pemerintah akan menunda lagi izin bila kami telah diizinkan uji coba di Batam dan Surabaya," tuturnya. Bandung sendiri masih belum masuk dalam "daftar" karena berdasarkan hasil survei, jumlah pengguna data masih relatif kecil.
Sebagai operator seluler terbesar dengan jumlah pelanggan sebanyak 22 juta (Juni 2005) atau melebihi 51 persen dari pangsa pasar pengguna telefon genggam di Indonesia, Telkomsel ingin terus menjadi pemimpin di pasar seluler. Tidak mengherankan bila, penerapan teknologi 3G menjadi program unggulan di usianya yang ke-10.
Menyoal pemberian izin layanan 3G di Indonesia, diawali Oktober 2003 ketika pemerintah memberinya pada PT Cyber Acces Communication (CAC). Lalu, pertengahan 2004, kembali dikeluarkan untuk PT Natrindo Telepon Seluler (NTS). Pemerintah juga memberikan izin pada Telkom Flexi, StarOne, dan Wireless Indonesia. Namun akhirnya ketiga operator tersebut harus meninggalkan frekuensi karena pemerintah akan membenahi pemanfaatan frekuensi 3G. Menteri Komunikasi dan Infor matika Sofyan Djalil menargetkan penataan frekuensi 3G akan selesai Agustrus 2005.

Sejarah
Perjalanan menuju layanan 3G di Indonesia tidaklah mudah. Namun sebagai operator yang berupaya menjadi pemimpin di dunia seluler di Indonesia, Telkomsel harus mampu dan berani dalam berinovasi di berbagai bidang, termasuk teknologi. Dalam bidang yang satu ini, diawali tahun 2000 dengan "bermain" di-dualband pada 900 dan 1.800 Hz. Akhir tahun 2002 diperkenalkan GPRS (general packet radio service) yang memungkinkan pelanggan berkirim data yang lebih besar seperti gambar-gambar dan foto. GPRS dikenal pula dengan generasi 2.5 G. Akhir 2003, Telkomsel kembali memperkenalkan teknologi EDGE (Enchaned Data Rate for GMS Evolutions) yang memungkinkan pelanggannya mengirim dan menikmati fasilitas untuk video streaming. EDGE, meski masih belum mendapat respons memuaskan, dikenal dengan 2.75 G. Kini di pertengahan tahun 2005, Telkomsel berhasil menguji coba teknologi "impian" 3G, yang memungkinkan orang bertutur sapa dari jarak jauh sambil bertatap muka.
Dengan uji coba dan direncanakan akan segera di-roll out di awal 2006 di lima kota besar, semakin memperkokoh posisi Telkomsel sebagai pemimpin operator seluler di tanah air. Menurut Yoseph, uji coba di 3 kota sudah dianggap lebih dari cukup, karena Jakarta, Batam, dan Surabaya selain tingkat pengguna data cukup tinggi, juga sudah mencakup berbagai permasalahan yang cukup sulit dan kompleks. "Jika di tiga kota itu berhasil, yang lain tinggal melenggang," tutur Yosep Garo.

Kendala
Seperti halnya penerapan suatu inovasi baru, menjelang aplikasi teknologi 3G tidak luput dari kendala, terutama dari sarana penunjang seperti handset yang masih sedikit disertai harganya yang masih relatif mahal. Paling murah harga handset 3G saat ini masih Rp 4 juta. Namun diyakini, awal 2007, semua handset yang dikeluarkan akan berbasis 3G. Keyakinan tersebut ditunjang oleh kesediaan vendor (produsen) handset yang akan mendukung aplikasi 3G di Indonesia.
Jika vendor sudah memproduksi handset berbasis 3G secara massal seperti halnya untuk 2G, diperkirakan harganya akan berkisar Rp 1,5 juta. Dengan harga sebesar itu, penggunaan 3G akan memasyarakat seperti halnya penggunaan handset 2G. Di Indonesia baru tersedia 8 tipe handset berbasis 3G, Nokia 3 jenis, Motorola 4 jenis, dan Ericsson 1 jenis.
Saat ini di dunia, sekira 100 operator telah menggunakan teknologi 3G yang ditunjang dengan lebih dari 100 tipe handset yang tersedia. Selain Jepang, Singapura, dan Hong kong, negara ”gajah putih” Thailand akan segera launching.
Namun tidak demikian dengan Cina. Negara ”tirai bambu” ini benar-benar melakukan proteksi pada industri dalam negerinya dengan menunda pemberian izin operator di sana untuk menggunakan teknologi 3G. Pasalnya, Cina menginginkan produk lokal turut berperan dalam "meramaikan" penggunaan teknologi 3G, dengan mendorong industri dalam negeri untuk sesegera mungkin mampu membuat handset 3G. Jika handset produk lokal sudah siap, Cina akan mengizinkan operator menggunakan teknonolgi 3G. Uji cobanya sendiri sudah dilakukan. Itulah kelebihan Cina dalam memproteksi dan mendorong perkembangan industri dalam negeri.
Efisien
Mengapa 3G? Suatu inovasi teknologi akan diperkenalkan jika memang memberikan berbagai keuntungan. Teknologi yang satu ini dinilai sangat efisien karena kemampuannya mentransfer data besar dalam waktu yang sama dengan kemampuan 2 MB per detik pada awalnya dengan maksimal 11 MB per detik. Sementara teknologi 2G hanya mampu maksimal 115 kbps (kilo byte per sec) dengan rata-rata 30 kbps. Sebagai pembanding lain, kemampuan teknologi EDGE hanya 473 kbps dengan rata-rata 80 - 120 kbps.
Demikian pula dengan kualitas suara akan jauh lebih prima dengan adanya adaptive multirate, di mana kecepatan akan mampu menyesuaikan sendiri. "Dari quality of service sudah dijamin banget," tutur Yoseph Garo yang ditemui di Indonesia Cellular Show 2005 di Jakarta. Dengan melihat kemampuan 3G, menjadikan teknologi ini sangat efisien sehingga diyakini akan membantu pelanggan karena dipastikan harga yang harus dibayar konsumen akan relatif lebih murah jika menggunakan 2G.
Bahkan Yoseph Garo menjamin bahwa harga atau tarif yang dikenakan maksimal sama dengan yang berlaku saat ini dan kemungkinan besar lebih rendah.
Dengan melihat cara kerja yang lebih efisien dan berkemampuan mentransfer data jauh lebih besar inilah diprediksi, layanan 3G akan mendapat sambutan dari pelanggan. Apalagi bila vendor yang tidak bisa dipisahkan dari operator, telah memroduksi handset secara massal seperti halnya handset 2G. Dengan tarif yang sama atau bahkan lebih murah, pelanggan akan memilih teknologi yang bisa memberikan kepuasan lebih. Hal tersebut tentu akan menjadi ancaman operator lain yang belum memberikan layanan 3G. Kalau pun bukan ancaman, tentu merupakan strategi pengembangan pasar dalam upaya meningkatkan dan mempertahankan sebagai operator terbesar di Indonesia, mengingat potensi pasar seluler di Indonesia masih sangat besar.
Tidak mengherankan bila Dirut Indosat, Hasnul Husaini, Selasa (26/7) lalu mengatakan pihaknya sudah menyiapkan dana sebesar 200 juta dolar AS untuk uji coba atau trial layanan generasi ketiga (3G) di beberapa kota besar. Langkah Indosat ini tentu akan makin meramaikan layanan 3G di Indonesia dan meyakinkan para vendor akan potensi pasar di Indonesia.
Dalam memberi layanan yang lebih baik bagi pelanggan di luar program layanan 3 G, di usia ke 10 tahun Telkomsel tengah merampungkan program meng-cover sampai ke pelosok kecamatan. Bahkan target pertamanya, seluruh ibu kota kecamatan (IKC) di Jawa dan Bali akan selesai tahun 2005 ini. Diharapkan, seluruh pelanggan Telkomsel di Jawa dan Bali di awal tahun 2006 sudah bisa menikmati jaringan tanpa harus mengalami gangguan. Sedangkan di luar Jawa dan Bali, jumlah IKC yang ter-cover sampai akhir tahun 2005 ini ditargetkan mencapai 70 persen. Untuk itu pula, pada tahun ini jumlah BTS (base transceiver station) diperbanyak sampai 7.600 atau menambah sampai 3.000 BTS. (Uyun Achadiat/PR) ***
Reference: