Meningkatkan Pangsa Pasar dengan Teknologi 3G
Oleh:
Uyun Achadiat
MASIH teringat di benak kita, ketika Indonesia mulai memasuki dunia pager. Begitu bangganya seseorang menerima nada panggil, sebagai tanda masuknya sebuah pesan. Dengan mengambil pesawat pager yang pada umumnya disimpan menggantung diikat pinggang, lalu membukanya dan membaca pesan yang tertulis di layar. Berbagai reaksi selalu menghiasi wajah pembaca pesan yang dikirim operator, tidak ubahnya membaca sms seperti yang kini sudah memasyarakat. Bedanya, kalau pembaca sms bisa langsung menjawab pesan, namun di era pager si penerima pesan biasanya bereaksi secara fisik. Langsung berangkat atau menelefon, sebab isi pesan satu arah dalam pager biasanya singkat. Misalnya, Di tunggu di kantor sebelum jam 17.00, Harap telefon ke nomor biasa, Barang akan segera dikirim dan berbagai pesan yang benar-benar singkat dengan mencantumkan nama si pengirim yang sebelumnya meminta pesannya itu disampaikan melalui operator.
Puluhan mahasiswa Universitas Indonesia, Universitas Mercu Buana, dan Universitas Trisaksi berdiskusi tentang layanan 3G dari Telkomsel. Kunjungan mahasiswa dalam rangkaian ”Indonesia Cellular Show 2005” tersebut merupakan salah satu upaya sosialisasi menjelang diluncurkannya layanan 3G tahun 2006.
Saat itu, tidak terpikirkan bahwa pengirim pesan dan penerima pesan akan bisa langsung bertatap muka dan berkomunikasi. Namun waktu terus berjalan dan perkembangan teknologi seluler demikian pesat. Teknologi yang menghasilkan pesan singkat short message service pun pada awalnya diragukan bisa diterima, namun dalam kenyataannya sms telah demikian menjadi kebutuhan hidup sehari-hari di hampir semua lapisan masyarakat.
Mungkin banyak kalangan tidak menyadari, termasuk sebagian besar pengguna teknologi seluler saat ini yang menggunakan teknologi 2G dan 2.5 G (generation), bahwa tahun ini operator seluler terbesar di tanah air, Telkomsel dalam usia 10 tahun, sudah menguji coba teknologi 3G (three G) yang memungkinkan orang bertelekomunikasi sambil bertatap muka melalui layar HP. Dulu hanya bisa melihat melalui film-film dan dianggap fiksi, tapi kini sudah hadir di depan mata.
Seperti diungkapkan GM Technology & Strategic Network Telkomsel, Yoseph Garo, pihaknya sudah berhasil menguji coba 3G di Jakarta dan Singapura. Bahkan dalam waktu dekat, uji coba akan dilakukan di Batam dan Surabaya. Usai uji coba di kedua kota tersebut, rencananya tahun 2006 akan langsung di-roll out di 5 kota besar. Mengenai izin sendiri, Yoseph menyakini akan dikeluarkan pemerintah mengingat berbagai sarana pendukung sudah benar-benar dipersiapkan. "Bayangkan, izin uji coba dikeluarkan, tiga minggu kemudian kami langsung uji coba dan berhasil. Tidak mungkin pemerintah akan menunda lagi izin bila kami telah diizinkan uji coba di Batam dan Surabaya," tuturnya. Bandung sendiri masih belum masuk dalam "daftar" karena berdasarkan hasil survei, jumlah pengguna data masih relatif kecil.
Sebagai operator seluler terbesar dengan jumlah pelanggan sebanyak 22 juta (Juni 2005) atau melebihi 51 persen dari pangsa pasar pengguna telefon genggam di Indonesia, Telkomsel ingin terus menjadi pemimpin di pasar seluler. Tidak mengherankan bila, penerapan teknologi 3G menjadi program unggulan di usianya yang ke-10.
Menyoal pemberian izin layanan 3G di Indonesia, diawali Oktober 2003 ketika pemerintah memberinya pada PT Cyber Acces Communication (CAC). Lalu, pertengahan 2004, kembali dikeluarkan untuk PT Natrindo Telepon Seluler (NTS). Pemerintah juga memberikan izin pada Telkom Flexi, StarOne, dan Wireless Indonesia. Namun akhirnya ketiga operator tersebut harus meninggalkan frekuensi karena pemerintah akan membenahi pemanfaatan frekuensi 3G. Menteri Komunikasi dan Infor matika Sofyan Djalil menargetkan penataan frekuensi 3G akan selesai Agustrus 2005.
Sejarah
Perjalanan menuju layanan 3G di Indonesia tidaklah mudah. Namun sebagai operator yang berupaya menjadi pemimpin di dunia seluler di Indonesia, Telkomsel harus mampu dan berani dalam berinovasi di berbagai bidang, termasuk teknologi. Dalam bidang yang satu ini, diawali tahun 2000 dengan "bermain" di-dualband pada 900 dan 1.800 Hz. Akhir tahun 2002 diperkenalkan GPRS (general packet radio service) yang memungkinkan pelanggan berkirim data yang lebih besar seperti gambar-gambar dan foto. GPRS dikenal pula dengan generasi 2.5 G. Akhir 2003, Telkomsel kembali memperkenalkan teknologi EDGE (Enchaned Data Rate for GMS Evolutions) yang memungkinkan pelanggannya mengirim dan menikmati fasilitas untuk video streaming. EDGE, meski masih belum mendapat respons memuaskan, dikenal dengan 2.75 G. Kini di pertengahan tahun 2005, Telkomsel berhasil menguji coba teknologi "impian" 3G, yang memungkinkan orang bertutur sapa dari jarak jauh sambil bertatap muka.
Dengan uji coba dan direncanakan akan segera di-roll out di awal 2006 di lima kota besar, semakin memperkokoh posisi Telkomsel sebagai pemimpin operator seluler di tanah air. Menurut Yoseph, uji coba di 3 kota sudah dianggap lebih dari cukup, karena Jakarta, Batam, dan Surabaya selain tingkat pengguna data cukup tinggi, juga sudah mencakup berbagai permasalahan yang cukup sulit dan kompleks. "Jika di tiga kota itu berhasil, yang lain tinggal melenggang," tutur Yosep Garo.
Kendala
Seperti halnya penerapan suatu inovasi baru, menjelang aplikasi teknologi 3G tidak luput dari kendala, terutama dari sarana penunjang seperti handset yang masih sedikit disertai harganya yang masih relatif mahal. Paling murah harga handset 3G saat ini masih Rp 4 juta. Namun diyakini, awal 2007, semua handset yang dikeluarkan akan berbasis 3G. Keyakinan tersebut ditunjang oleh kesediaan vendor (produsen) handset yang akan mendukung aplikasi 3G di Indonesia.
Jika vendor sudah memproduksi handset berbasis 3G secara massal seperti halnya untuk 2G, diperkirakan harganya akan berkisar Rp 1,5 juta. Dengan harga sebesar itu, penggunaan 3G akan memasyarakat seperti halnya penggunaan handset 2G. Di Indonesia baru tersedia 8 tipe handset berbasis 3G, Nokia 3 jenis, Motorola 4 jenis, dan Ericsson 1 jenis.
Saat ini di dunia, sekira 100 operator telah menggunakan teknologi 3G yang ditunjang dengan lebih dari 100 tipe handset yang tersedia. Selain Jepang, Singapura, dan Hong kong, negara ”gajah putih” Thailand akan segera launching.
Namun tidak demikian dengan Cina. Negara ”tirai bambu” ini benar-benar melakukan proteksi pada industri dalam negerinya dengan menunda pemberian izin operator di sana untuk menggunakan teknologi 3G. Pasalnya, Cina menginginkan produk lokal turut berperan dalam "meramaikan" penggunaan teknologi 3G, dengan mendorong industri dalam negeri untuk sesegera mungkin mampu membuat handset 3G. Jika handset produk lokal sudah siap, Cina akan mengizinkan operator menggunakan teknonolgi 3G. Uji cobanya sendiri sudah dilakukan. Itulah kelebihan Cina dalam memproteksi dan mendorong perkembangan industri dalam negeri.
Efisien
Mengapa 3G? Suatu inovasi teknologi akan diperkenalkan jika memang memberikan berbagai keuntungan. Teknologi yang satu ini dinilai sangat efisien karena kemampuannya mentransfer data besar dalam waktu yang sama dengan kemampuan 2 MB per detik pada awalnya dengan maksimal 11 MB per detik. Sementara teknologi 2G hanya mampu maksimal 115 kbps (kilo byte per sec) dengan rata-rata 30 kbps. Sebagai pembanding lain, kemampuan teknologi EDGE hanya 473 kbps dengan rata-rata 80 - 120 kbps.
Demikian pula dengan kualitas suara akan jauh lebih prima dengan adanya adaptive multirate, di mana kecepatan akan mampu menyesuaikan sendiri. "Dari quality of service sudah dijamin banget," tutur Yoseph Garo yang ditemui di Indonesia Cellular Show 2005 di Jakarta. Dengan melihat kemampuan 3G, menjadikan teknologi ini sangat efisien sehingga diyakini akan membantu pelanggan karena dipastikan harga yang harus dibayar konsumen akan relatif lebih murah jika menggunakan 2G.
Bahkan Yoseph Garo menjamin bahwa harga atau tarif yang dikenakan maksimal sama dengan yang berlaku saat ini dan kemungkinan besar lebih rendah.
Dengan melihat cara kerja yang lebih efisien dan berkemampuan mentransfer data jauh lebih besar inilah diprediksi, layanan 3G akan mendapat sambutan dari pelanggan. Apalagi bila vendor yang tidak bisa dipisahkan dari operator, telah memroduksi handset secara massal seperti halnya handset 2G. Dengan tarif yang sama atau bahkan lebih murah, pelanggan akan memilih teknologi yang bisa memberikan kepuasan lebih. Hal tersebut tentu akan menjadi ancaman operator lain yang belum memberikan layanan 3G. Kalau pun bukan ancaman, tentu merupakan strategi pengembangan pasar dalam upaya meningkatkan dan mempertahankan sebagai operator terbesar di Indonesia, mengingat potensi pasar seluler di Indonesia masih sangat besar.
Tidak mengherankan bila Dirut Indosat, Hasnul Husaini, Selasa (26/7) lalu mengatakan pihaknya sudah menyiapkan dana sebesar 200 juta dolar AS untuk uji coba atau trial layanan generasi ketiga (3G) di beberapa kota besar. Langkah Indosat ini tentu akan makin meramaikan layanan 3G di Indonesia dan meyakinkan para vendor akan potensi pasar di Indonesia.
Dalam memberi layanan yang lebih baik bagi pelanggan di luar program layanan 3 G, di usia ke 10 tahun Telkomsel tengah merampungkan program meng-cover sampai ke pelosok kecamatan. Bahkan target pertamanya, seluruh ibu kota kecamatan (IKC) di Jawa dan Bali akan selesai tahun 2005 ini. Diharapkan, seluruh pelanggan Telkomsel di Jawa dan Bali di awal tahun 2006 sudah bisa menikmati jaringan tanpa harus mengalami gangguan. Sedangkan di luar Jawa dan Bali, jumlah IKC yang ter-cover sampai akhir tahun 2005 ini ditargetkan mencapai 70 persen. Untuk itu pula, pada tahun ini jumlah BTS (base transceiver station) diperbanyak sampai 7.600 atau menambah sampai 3.000 BTS. (Uyun Achadiat/PR) ***
Reference: